logotype
logotype

Preman Insyaf

Rambut gondrong, badan penuh tato, muka garang, perilaku yang kasar, begitulah mungkin kesan orang ketika melihat Niko beberapa tahun yang lalu. Di kalangan anak jalanan Simpang Lima dan Pasar Johar memang Niko pernah menjadi bos yang menguasai anak-anak jalanan. Kerjaannya tiap hari hanya mengkoordinir anak-anak jalanan yang rata-rata masih berusia belasan untuk ngamen, minta-minta, nyopet, mencuri, bahkan nodong. Di akhir “jam operasi” anak-anak itu, Niko tinggal menerima setoran dari mereka. Terkadang Niko sendiri juga turun langsung ikut ngamen sambil nodong. Uang, hape dan barang-barang berharga lainnya kerap kali mampir di kantong Niko. Namun semua itu bisa habis dalam semalam. Hasil “jerih payah” itu seringkali habis hanya untuk minuman keras dan obat-obatan. Kehidupan seperti itu setiap hari dijalani oleh Niko, dan dia sudah merasa menjadi penguasa jalanan.

Sampai suatu saat perasaan amannya itu diusik oleh kehadiran kakaknya. Kakak Niko (Ayub red.) telah menjadi anak binaan di Rumah Pengentasan Semarang lebih dahulu daripada Niko waktu itu. Ia juga sebelumnya adalah anak jalanan yang berperilaku kasar. Oleh ajakan temannya ia pun sadar dan meninggalkan kehidupan jalanan dan mau dibina di Rumah Pengentasan. Setelah sadar ia gantian ingin menjangkau anak-anak jalanan lain agar meninggalkan kehidupan jalanan, dan ia memulai dengan menjangkau Niko, adiknya sendiri.

 

Awalnya Niko hanya tertawa ketika Ayub mengajaknya untuk dibina di Rumah Pengentasan.

“Di jalanan aku bisa mendapat semua yang aku inginkan, uang melimpah. Tapi apa yang bisa kamu tawarkan kalau aku tinggal di Rumah Pengentasan? Uang? Kekayaan? Lebih baik jika kamu yang ikut aku, nanti kamu aku bayar!” kata-kata itu selalu keluar dari bibir Niko tiap kali Ayub mengajaknya ke Rumah Pengentasan. Berkali-kali Ayub mengajaknya tapi tidak pernah digubris sampai suatu saat tangan Sang Mahakuasa sendiri yang bertindak. Selama Niko didatangi oleh kakaknya di waktu lain ia tetap beroperasi seperti biasanya, ngamen sambil nodong. Prinsipnya ketika orang yang dia ngamen tidak mau memberi uang giliran pisau yang ia sodorkan. Mau tidak mau orang pasti langsung memberi uang, dan sasaran Niko ialah pasangan-pasangan yang sedang pacaran yang banyak bertebaran di jalan-jalan maupun taman. Suatu kali ketika Niko beroperasi seperti biasanya, ia mengalami hari naas. Ternyata orang yang ia todong merupakan anggota Polri. Ketika ia menodongkan pisau kepada orang itu gantian orang itu menodongkan pistol pada Niko. Kontan saja Niko pun ketakutan dan ia pun berakhir dengan dihajar oleh anggota Polri itu dan teman-temannya. Hari yang naas seperti itu tidak berlangsung hanya sekali tapi berkali-kali. Pernah suatu ketika Niko nodong di kereta api dan orang yang ia todong ternyata anggota TNI. Ia pun kembali dipukuli sampai babak belur, rambutnya digunduli separuh untuk mempermalukannya dan ia diturunkan di kota lain. Hal-hal naas yang menimpa Niko membuatnya berpikir apakah itu semua terjadi karena ia tidak boleh melakukan kejahatn jalanan lagi oleh Yang Mahakuasa? Dan akhirnya ketika untuk kesekian kalinya Ayub mengajaknya ke Rumah Pengentasan Niko langsung menyetujuinya.

 

Mungkin saat itu Niko merasa terpaksa dibina di Rumah Pengentasan tapi sekarang ia telah mengalami perubahan yang luar biasa. Penampilannya yang dulu terkesan kotor dan compang-camping berganti menjadi bersih dan rapi. Bahkan saat ini Niko sedang menempuh pendidikan di sebuah sekolah pembentukan karakter di Kopeng beserta Bapak Hendi, salah satu aktivis yayasan yang mengabdikan dirinya pada Yayasan Emas Indonesia.

 

Tuhan dapat mengubahkan semua hati yang keras. Niko, seorang anak jalanan yang kasar dan keras pun dapat diubah menjadi pribadi yang baik dan tidak lagi menunjukkan sifat-sifat jalanannya.

Comments   

 
+1 #1 WHY 2012-10-12 15:07
keren...keren.. .don't stop in one step, move on niko....Mahkota Tuhan menanti kamu.... :lol: :lol:
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

2014 YAYASAN EMAS INDONESIA design by number1desain