logotype
logotype

Hati preman wajah Malaikat

Beberapa waktu lalu di Yayasan Emas Indonesia lebih tepatnya dirumah pengentasan semarang, ada kejadian yang bisa lah kami katakan menarik. Sore itu, langit mendung, angin sepoi-sepoi semilir, sejuk. Lalu lalang kendaraan seperti biasa, tidak ramai tidak juga sepi. Setelah seharian melakukan kegiatan di kantor yayasan, saya agak santai diruang kantor, kami tiba-tiba kedatangan tamu istimewa. Seorang yang sedang mabuk, berdiri didepan saya terus mengucapkan sesuatu dengan berguman tidak jelas, entah salam atau makian, langsung nyelonong masuk kedalam. Duduk dikursi. Hitam, muka bekas jerawat agak codet sedikit. Bila dilihat dengan seksama tampang premannya sih dapat juga. Mas Heru, demikan dia biasa dipanggil memang sering datang berkunjung ke Yayasan Emas. Alasan nya sih “main”, tapi sebenarnya lebih seringnya minta jatah preman yaitu duit, beras, makanan atau apalah. Sangat sering malah,.. sampai pengurus dan aktifis rumah pengentasan agak bosan lihat wajah yang satu ini. Tapi dikarenakan demi menjaga hubungan, juga sebagai orang yang beragama kelihatan lucu kalau tidak menyambut dengan baik kemudian memberi sesuatu pada orang-orang yang seperti ini. Maka, kami sering juga memberikan apa yang Mas Heru minta. Tapi lama kelamaan malah “sana”nya jadi kebiasaan. Dikiranya kami sapi perah, maka inilah yang terjadi……..

Tiap kali datang, so pasti si mas ini abis "minum" dan kerap memamerkan "bau" naga mulut nya itu yang ya ampun, bau bangkai…..

Sudah campurlah sama bau yang lain-lain.  Ditambah, hitam kecoklatan lagi giginya pula. Gak pernah sikat gigi kaleee. Kadang-kadang malah membuat resah anak-anak rumah pengentasan lain nya tiap kali dia datang. Anak- anak ini pasti takut. Lha wong si Senior yang datang.

Sampai lah di sore itu waktu mas Heru ini datang, saya kebetulan lagi ada di rumah singgah. Seperti yang diceritakan didepan, dia jalan agak sempoyongan, mulut bau minuman dan duduk didepan saya.

"halo om Samuel, malam, boleh mampir gak?" katanya dengan wajah tanpa dosa dan di sangar sangarkan. Kayak nya cocok juga buat main film nih orang. Akting tingkat tinggi Man. Sudah duduk baru nanya, boleh mampir atau tidak? Hmm pemabuk,….

 

Sementara dia duduk dan menyapa saya, dalam hati saya, huff datang lagi nih kampret (mulai muncul deh darah Menado, he he h). Walau hati panas, Tapi tetap dengan wajah hamba Allah yang welas kasih (cieee)

 

"oya mas Heru boleh, masuk aja, silahkan duduk. Ada perlu apa ne mas?" kata saya sembari senyum dewa. "Biasa,.. maen aja kok" seru nya sambil ngembus2i napas alkoholnya ketika salaman. Mulai deh. Basa basi bentar juga gak jelas dia ngomong apa (sengaja, supaya keliatan mabok. Trik lama lah buat nakut nakutin kayak yang saya pakai dulu kalau mau ngompas orang.)

 

"Ada beras gak om?" katanya. Iya kan, bener tafsiran saya, minta beras.

"Wah maap mas heru gak ada beras tuh" kata saya yang memang waktu itu beras nya lagi habis. Maka mulai lah wajah tidak senangnya muncul, nada meninggi : "Ah masak sih,.. aku perlu nih. AKU MINTA LOH!". Nada tinggi, mulai pemaksaan kayaknya.

Hmm penyakit nih,.. dikasih hati minta jantung, kasih empedu minta rempela. Emang beras bapak lu, dalam hati saya begitu. Tapi lagi lagi wajah tetap "bersih" dan penuh senyum kayak Bunda Theresia gitu lah. Mirip mirip.

Tapi si mas Heru gak percaya, entah bener gak percaya atau mau cari gara gara, tetap ngotot dengan mata yang melotot. Sayup-sayup dihati ini, muncul lagu rohani lama. Main di kunci G=do,.... “Mendidih dihati mendidih dihati, mendidih dihati ku,.....”

Belum tau dia, ini orang menado, muka “Pangi dan Pemakan Segala”. Segala sesuatu kecuali kaki meja, bias dimakan. Bahkan kalau Setan ada dagingnya bisa bisa di buat rica-rica juga.

 Agak lama dia maksa,..

Darah saya udah naik ke ubun ubun. Dari malaekat, mulai tumbuh tanduk merah dan,… Berasap.

 

Saya berdiri, tunjuk dada nya ganti saya yang nada tinggi : "SAYA BILANG GAK ADA YA GAK ADA. DENGER,,,, GW GAK TAKUT SAMA LU YA,... ADA BERAPA ORANG KAYAK KAMU SAYA GAK AKAN MUNDUR. MAU COBA SAMA ORANG MENADO, HAH???..."Dengan suara persis kalo lagi KKR, sembari gebrak meja. " BRRRAAAK". Gaya Preman nya muncul juga. Mulai hitung-hitungan beladiri. Dia gerak dikit, nih plungku (tinju) masuk duluan di rahang nya. Pasti jatuh. Pengalaman latian maupun berantem dulu2 juga begitu, melihat cara dia berdiri.

Kuda-kuda sudah siap,.. menunggu………. Tapi dia diam seribu bahasa.

 Hening,... dia tatap mata saya, saya liat lagi. "APA KAMU??"

" emm,uh,ah, hmm, aaaaaa, gak om Samuel, gak kok, he he he....maapin saya ya" Katanya sembari jabat tangan saya, trus dicium ama dia. cup cup cup, tangan saya basah deh.

Seeerrrrrrrr, Gubrakkkkkkk…………….

Ternyata, oh ternyata,..

Ciuuut juga dia, man. Rasain lo……

" Sekali lagi maap bang, saya pulang aja kalau kayak gitu,.." sembari ngeloyor pergi bareng temen nya. Udah gak sempoyongan lagi. Maboknya tiba tiba hilang.

Kembali heninggggg,…

Anak-anak yang ada di atas, yang lihat kejadian tadi pun tidak berani bersuara,…

Tinggal saya sendiri, mematung seolah tidak percaya,.. Tadi itu aku kah?... masak kayak begitu,..

Saya hamba Allah ato siapa, Pendeta apa PENDEKAR ????????........................... Masa sih jadi kayak gini. TIdak habis piker…..

Ampun Tuhan,.....

 

Coba tadi kejadian. Kami berantem. Saya pukul dia atau dia pukul saya. Trus karena kejadian itu, misalnya masuk Koran. Mending kalau preman pukul pendeta, tapi ini “ada pendeta pukul preman”. Kan gak lucu………

Ternyata…. Oooooohhh, Ternyata  saya gak sebaik yang saya kira, juga yang dikira oleh orang orang.

Sadar sadar,..mungkin disini pengakuan doasa

“Maapin gw yeee”...........

Juga buat mas Heru,.. maapin saya…

Nanti kalau ketmu lagi saya akan minta maaf sama dia...

Juga saya akan bilang kalau mau minta beras jangan pake alkohol dong. Mbok ya minta baek2-baek saja. Pasti kita kasih deh......

 

Banyak yang mengira ketika kami ambil bagian dalam pelayanan orang miskin dan anak jalanan, melihat kami bak Orang Suci, penuh Kasih dan tanpa salah. Dikiranya kami sekumpulan malaekat berjubah manusia. Membuat kami malah jadi serba salah, selalu coba tampil sempurna, terkunci di ketinggian yang saking tingginya membuat kami tidak tampil sebagaimana diri kami apa adanya. Malah membuat kami tampil sesuai dengan bentukan orang orang. Menipu banget kan.

Yang parah nya membuat mereka berpikir Tuhan sangat mengasihi kami karena perbuatan baik yang kami lakukan.

 Ah, kalau saja mereka tau sebenarnya kami juga manusia yang bisa juga jatuh,......dan terpuruk.

 Tuhan mengasihi, menyertai pelayanan sampai saat ini sehingga bisa bertahan dalam kesulitan dan memberkati pelayanan kami bukan karena kami orang orang baik. Melainkan karena Keajaiban Anugrah. Karena memang Dia Kasih, dan gak perlu “disuap” dengan kabaikan kebaikan manusia untuk mendapat perkenanNya. Dia mengasihi manusia semata-mata karena Kasih Karunia Nya yang besar……..

 

Cerita diatas hanyalah sebagian kecil dari banyak kegagalan kegagalan seorang Samuel.

Contoh kecil Kebaikan Allah dibalik kegagalan kegagalan manusia. Bagi anda yang sering gagal, kita ada di tempat yang sama. Tidak ada yang lebih baik diantara kita. Hanya Satu yang baik, Dia. Mari bangkit lagi, berjuang lagi, bukan dengan kekuatan kita tapi dengan kekuatan Nya. Tatap Salib, disitu ada pengampunan. Supaya Kemuliaan hanya diberikan hanya padaNya bukan pada kita sang penggagal ini.

AMIN

(by Samuel)

Comments   

 
0 #2 hezzerr 2012-10-06 11:13
betul sekali itu, lebih baik tampil apa adanya ketimbang berjubah dua he.. he.. he.. :lol: :lol: :lol:
Quote
 
 
0 #1 Fann 2012-05-18 13:53
:lol: :D :P :P
hehehehehehe... .........apa adanya saja ya pak.......
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

2014 YAYASAN EMAS INDONESIA design by number1desain